Title: Sejarah dan Peran Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dalam Pengembangan Pertanian di Indonesia


Sejarah dan Peran Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dalam Pengembangan Pertanian di Indonesia

Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) merupakan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang memiliki peran penting dalam pengembangan sektor pertanian di tanah air. Sejarah STPN dimulai pada tahun 1963 dengan nama Akademi Pertanian di Bogor. Pada tahun 1979, Akademi Pertanian tersebut diubah menjadi STPN dan mulai menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam bidang pertanian, khususnya dalam bidang pertanahan.

Sejak berdirinya, STPN telah berperan aktif dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Salah satu peran utama STPN adalah dalam menghasilkan tenaga ahli di bidang pertanian dan pertanahan yang siap untuk berkontribusi dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Para lulusan STPN telah menjadi garda terdepan dalam pengembangan teknologi pertanian, pengelolaan lahan pertanian, dan peningkatan produktivitas pertanian di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, STPN juga aktif dalam penelitian dan pengembangan di bidang pertanian. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa STPN telah memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian di Indonesia. Selain itu, STPN juga melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi terkait dalam rangka mengembangkan teknologi pertanian yang inovatif dan berkelanjutan.

Dengan peran yang penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia, STPN terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang pertanian. Dengan dukungan dari para lulusan, dosen, dan mitra kerja, STPN diharapkan mampu terus berkontribusi dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Indonesia.

Referensi:
1. Situs Resmi Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (
2. Buku “Sejarah Pertanian di Indonesia” oleh Prof. Dr. Ir. Soemarjo Sastrodiningrat
3. Jurnal “Peran Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dalam Pengembangan Pertanian di Indonesia” oleh Dr. Ir. Bambang Purnomo, M.Sc.